Para Ahli Epidemiologi Mengatakan Jangan Remehkan Varian Omicron, Varian Ini Ternyata Tidak Lemah

Jakarta - Ahli epidemiologi memperingatkan bahwa virus corona varian Omicron tidak selemah yang dibayangkan. Pemerintah pun didesak mengambil kebijakan mitigasi yang lebih ketat untuk mencegah penularan COVID-19.

Sejak awal kemunculannya, varian corona Omicron dilaporkan kurang menyebabkan gejala parah seperti varian Delta.

Namun, epidemiolog dari Universitas Griffith, Dicky Budiman, mewanti-wanti bahwa kesimpulan tersebut hanya didasarkan pada penyelidikan awal.

Pada akhirnya, kesimpulan awal bahwa virus corona varian Omicron kurang berbahaya membuat masyarakat lengah, kata Dicky.

Padahal, Omicron terbukti menyebabkan orang memerlukan perawatan rumah sakit dan kematian pada lansia dan anak-anak.

"Ada kesalahan di awal Omicron ini muncul, ketika dunia juga sebagian masyarakat, sebagian negara itu sudah jenuh kan, mencari info yang bisa menenangkan.

Padahal kita tuh enggak bisa dalam pengendalian wabah, PHP itu enggak efektif dan berbahaya. Pemberi harapan palsu," kata Dicky.

"Ini di-PHP-in dengan masalah lemah, light, ya padahal kita pada saat itu (awal Omicron) terlalu dini menyimpulkan itu.

Karena data kesakitan dan kematian itu perlu empat minggu setelah kemunculannya untuk paling cepat melihat dampak itu."

Dicky menjelaskan bahwa corona varian Omicron tidak bisa dikategorikan sebagai varian yang lemah.

Untuk menyebut sebuah varian lemah, varian tersebut tidak boleh menyebabkan peningkatan perawatan rumah sakit dan kematian. Menurut Dicky, varian Omicron tidak memenuhi kedua syarat tersebut.

Kasus COVID-19 di Indonesia terus melonjak setelah varian Omicron terdeteksi pada Desember 2021 lalu.

Per Kamis (3/2), Indonesia mencatat 27.197 pertambahan kasus COVID-19 dalam sehari dengan catatan 38 pasien meninggal.

Jumlah kasus tersebut merupakan yang terbanyak di Indonesia sejak 14 Agustus 2021, saat dihantam oleh gelombang corona varian Delta.

Jumlah kematian pada Kamis (3/2) juga yang tertinggi di Indonesia sejak 19 Oktober 2021.

Tingkat perawatan rumah sakit juga melesat dalam hitungan hari. Per Kamis (3/2), misalnya, bed profession price atau keterisian tempat tidur isolasi di rumah sakit di Jakarta telah mencapai 61 persen dan ICU telah terisi 30 persen, menurut Wakil Gubernur Riza Patria.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Vaksin Zifivax? Dan Mengapa Bisa di Izinkan Untuk Penggunaan di Indonesia? Berikut Penjelasannya

NASA Ambisi Buat Pangkalan di Bulan Dan Merancang Reaktor Nuklir Untuk Sumber Energi Untuk Masa Mendatang

Tim Arkeolog Menemukan Makan Berusia 3.300 Tahun Dan Berisi 2 Jenazah Berlidah Emas